Cerita Sex Gairah Sex Yuni Sepupu Istriku

Posted on
Pokervaganza

Cerita Sex Gairah Sex Yuni Sepupu Istriku – Kemarin malam saya baru pulang dari kota dan saya sedang ingin malas-malasan saja, dan ingin datang agak siang untuk masuk ke kantor. Sedangkan istrisaya sudah berangkat, dan anak semata wayang saya sudah ke sekolah. Selesai sarapan yang disiapkan oleh Yuni Saya belum juga mandi tapi menikmati 3 hari koran yang belum saya baca selama keluar di sofa ruang tamu. Santai… Hari menjelang siang.

Yuni baru saja selesai mengepel lantai lalu ke belakang. Rasanya ada yang aneh pada Yuni. Tiap hari dia memang mengepel lantai dan itu biasa. Entah apa yang berbeda pada dia pagi ini Saya tidak memperhatikan dan memang tak ingin tahu. Hanya saya merasa agak aneh saja. Kembali Saya membaca koran. Ketika terdengar suara guyuran air di kamar mandi belakang, juga masih biasa, Yuni selesai bersih-bersih rumah lalu mandi.

Agen878

Lalu setengah jam kemudian dia tampak sliweran antara dapur dan ruang makan juga biasa. Juga ketika masuk ke kamar anak saya. Sekilas Saya sempat melihatnya lewat dari balik bentangan koran saya. Mungkin ini yang tak biasa, dia tampak lebih rapi dari biasanya. Daster yang dia kenakan wisata baru. Mungkin mau keluar belanja, pikirku.

Dalam kesibukan dia di ruang makan kadang dia mengeluarkan suara pada piring dan alat lainnya. Dengan sendirinya Saya sedikit mengangkat kepala dari pandangan tentang koran ke arahnya. Itu gerakan refleks yang biasa. Yang tak biasa adalah dia beberapa kali ‘tertangkap’ sedang memandang ke arah saya tapi melihat agak ke bawah. Ketika dia sedang ke belakang Saya coba teliti adakah yang aneh pada diri saya ? kebiasaan di rumah Saya selalu mengenakan celana pendek. Itu sudah sering dan Yuni juga sudah tahu. Jadi apanya yang aneh? Ah, memang Saya peduli! Saya terus saja membaca.

Sampai tak lama kemudian, saat sedang asyiknya Saya membaca tanpa saya sadari Yuni sudah berdiri di depan saya. Quran saya tempat, belum sempat Saya membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba Yuni menghambur ke arah saya, duduk di pangkuan saya dan memeluk tubuh saya. Lalu kepalanya yang tersembunyi di dada saya terlihat sedikit berguncang. Yuni menangis. Ada angin apa nih?

“Maafkan aku Kang…” katanya di sela-sela adalah tangisnya.

Yuni memang bukan pembantu. Dia adalah sepupu istri saya, sama-sama dari Kuningan, asal istri saya. Dia cukup cerdas walau SMK saja tak tamat, karena keburu menikah dengan ibunya. Teman-temannya di kampung pada umumnya hanya tamatan SMP atau bahkan SD. Dia sebenarnya ingin sekolah sarjana, kebiasaan di kampung mengharuskan ketika perempuan hanya sudah berrumah-tangga mencapai umur 16 atau 17 tahun. Malang sejak saat pernikahan dengan suami saat basah berselingkuh. Dia menciptakan dan ingin ikut istri saya ke Jakarta sambil tahu siapa yang bisa mengikuti sekolahnya dan menggapai cita-citanya menjadi sarjana. Di kampung dulu dia memang amat dekat dengan istri saya.

Setelah bicara dengan saya, istri saya setuju menyekolahkan dia sampai tamat. Yuni menyediakan apa saja, jadi sekalipun, untuk mengejar cita-citanya. Kami, saya, istri dan anak saya tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Kami melakukan dia sebagai salah satu kerabat dekat. Sudah hampir dua bulan dia ikut dengan keluarga kami. Dia sudah terdaftar di SMK kelas tiga, hanya belum mulai sekolah karena menunggu tahun ajaran baru, bulan depan. Umurnya kini 18 tahun. Memang sedikit terlambat. Anak seusia dia umumnya sudah tamat SMU.

“Kenapa Yun?”

“Maafkan aku Kang…”

“Kamu salah apa?”

Dia tak menjawab, masih terisak. Saya coba menduga-duga, mungkin dia tak betah karena mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu.

“Kamu pengen pulang?”

Yuni goyang. Sebenarnya tidak juga sebagai pembantu karena istri saya kalau sedang di rumah juga ikut terjun kerja bersama dia. Anak saya pun begitu. Kami memang sudah biasa tak punya pembantu.

“Atau kamu gak beta di sini?”

“Bukan Kang bukan… Saya senang tinggal sama Teteh…” yang dia sebut teteh adalah istri saya.

“Jadi kenapa?”

Hening dan lalu

“Sayanya Kang, aku yang tak beres…”

“Tak beres apanya? Ayo cerita, jangan sungkan-sungkan. Kamu kan sudah aku menganggap adikku sendiri”

“Bukan masalah itu Kang… Akang sekeluarga disini baik-baik semua… aku beta…”

“Lalu?”

Yuni masih diam, tangisnya mereda. Tapi masih belum mau bicara. Tak sadar Saya mengelus-elus pemandangan yang lurus dan panjang sepunggung, seperti rambut istri saya. Memang Yuni sangat banyak dengan istri saya. Wajah mirip, hanya istri saya langsat dia sawo matang. Bentuk tubuhnya sama langsing, hanya dada Yuni sedikit lebih besar. Jangan macam-macam. Dari ‘tampak luar’ saja sudah terlihat, tak harus ‘memeriksa’ ke dalam.

Memangnya Saya sedikitnya berani menguji sepupu saya. Dada? Ah…, daging kembarnya itu melekat erat di dada saya sekarang. Baru sekarang saya juga menyadari bahwa bongkahan itu menempel di tubuh saya. Tak ada ‘kain keras’ di antara kami. Masa sih? Untuk memenuhi rasa penasaran saya, tangan saya yang sedang membelai rambut Yuni ‘mampir’ ke punggungnya. Hanya kain daster saja yang ada dipunggungnya. Benar, Yuni tak mengenakan bra! Saya lebih banyakproduktif. Mungkin saja tadi dia sehabis mandi belum sempat memakainya. Tapi menyadari ‘keadaan’ begini, sebagai lelaki normal tak urung ada yang menggeliat di balik celana pendek saya.

Lalu, saya biarkan pikiran saya mengelana, saya membayangkan bentuk bongkahan yang menekan dada saya, tentunya masih kencang karena belum punya anak dan belum setahun ‘dipakai’, dengan meletakkannya yang kecil dan coklat. Imagi begini jelas saja membuat perangkat di bawah saya semakin mengencang. Tiba tiba Yuni mengangkat yang dari tadi ngumpet di dada saya. Tatapnya mata saya, lalu pandangan beralih ke tubuh saya bagian bawah dan kemudian membocorkan saya lagi. Saya yakin pantatnya telah merasakan perubahan yang terjadi di celana saya.

“Kang…” bisiknya serak.

Pantatnya bergerak menggoyang, melumati kelamin saya. Mendadak mulut saya dipagutnya. Saya masih shock atas tindakannya sehingga bibir saya hanya pasif menerima sapuan orang. Tapi itu tak lama, hanya beberapa saat bibir saya malah merespons lumatan saat itu. Kami berciuman. Celakanya, entah bagaimana Saya jadi membayangkan bahwa sedang saya cium ini adalah istri saya sehingga ciuman kami semakin seru.

Film-Bokeb

Saya sempat melayang-layang sampai suatu saat kesadaran saya kembali ke bumi, rasio mengalahkan emosi. Saya mendorong kepala Yuni menjauh, ciuman terlepas.

“Yun…?”

Saya ekspresi melihat wajah yang kaget.

“Kang…maafkan aku…tapi aku butuh banget… butuh Kang…udah lama banget menahan…”

“Kamu sadar Yun?”

“Iya Kang, sadar bahwa aku sangat membutuhkanmu Kang…”

“Kenapa aku?” tanya saya lagi.

“Gak tahu Kang. Tubuhku ini sudah lama membara… Udah lama aku coba menahannya tapi aku gak mampu Kang… tolong Akang mengerti…”

Tanpa menunggu reaksi saya Yuni kembali menciumi saya. Kami berpagutan lagi. Saya mulai menikmati. Kesadaran saya menghilang.

Kemudian, ini adalah gerakan refleks yang wajar dan biasa ketika telapak tangan kanan saya mulai meremas-remas buah dada kirinya yang hanya tertutup daster. Daging yang sekal sesuai bayangan saya tadi. Yuni melepaskan ciuman lalu mengerang sambil mendongak untuk menikmati remasan saya. Bahkan erangannya mirip dengan rintihan istri saya. Hanya sebentar, kembali dia mengejutkan saya, dengan sigapnya dia melepaskan kancing-kancing dasternya lalu menyodorkan mendekati ke muka saya. Dua bulatan kembar itu kini terhidang di depan hidung saya. Putingnya kecil tapi telah mengacung ke depan. Saya ciumi buah, bergantian kanan dan kiri. Puting kecil itu memang keras.

Juga gerakan yang wajar jika tangan saya kemudian membelai-belai pahanya, menyusup ke balik dasternya, merambat sampai pangkalnya. Lagi-lagi saya dibikin kaget. Hanya daster itulah satu-satunya pakaian yang melekat di tubuh sintal Yuni. Saya tadi memperhatikannya. Selangkangan halus itu telah membasah dan lembab. Yuni semakin menggila.

“Ayo Kang. Sekarang… Aku mohon…”

Rangsangan saya sudah tinggi, tak ada lagi pikiran jernih, gelap mata. Saya bopong Yuni menuju kamar saya, saya rebahkan tubuhnya ke kasur. Secepat kilat Yuni melepaskan dasternya melalui kepalanya.

Tubuh coklat langsing sekal itu kini telanjang bulat tergolek di kasur saya. Kedua belah pihak, memang benar, menonjolkan dan memasangkan lingkaran aerola yang kecil menambah keindahannya. Bulu-bulu halus di bawah perutnya terlihat rapi tanda terawat. Tubuh itu kini gelisah, bergerak-gerak tak tentu. Pahanya sudah membuka lebaran. Tunggu apa lagi?

“Ayo Kang…”

Secepat kilat Saya memelorotkan celana pendek saya sekaligus dalemannya. Saya naik ke tempat tidur dan mengarahkan penis saya ke selangkangannya. Kebiasaan saya kalau awal penetrasi lebih suka posisi misionaris, karena saya bisa melihat ekspresi wajah lawan utama saya ketika penis saya mulai menusuk. Wajah dengan mata terpejam dan kepala sedikit mendongak adalah pemandangan paling eksotis. Saya rebahkan tubuh saya menindihnya. Lalu dengan gerakan agak kasar Saya menekan. Muka Yuni berkerut, dia menunjukkan ekspresinya sendiri, ekspresi seperti orang yang sedang depresi. Benar saja…

“Aaaww…pelan-pelan Kang, aku udah lama banget engga…”

Memang, kepala penis saya serasa membentur tembok walaupun Saya yakin dia telah lembab.

“Oh… maaf Yun…”

Lalu dengan sabarnya Saya perlahan-lahan membuat gerakan-gerakan pendek maju-mundur untuk membuka ‘pintu’ yang sudah lama tak pernah dimasuki. Memang agak susah, harus perlahan dan bertahap. Akhirnya batang seluruh saya tertelan oleh vaginanya. Saya ‘memompa’, perlahan-lahan agar bisa lebih merasakan batang saya dengan dinding-dinding liang vaginanya. Milik Yuni begitu eratnya menjepit batang saya, tetap seperti milik istri saya pada awal-awal kami menikah. Saya jadi produksi berbulan madu dengan istri saya beberapa tahun lalu. Cerocohan ribut yang keluar dari mulut Yuni pun sama. Beginilah rasanya. Hanya satu kata: nikmat!

Lalu Yuni? Sulit saya gambarkan. Gerakan begitu tubuhnya pembohong, ekspresi wajah begitu ekstasi manjadikan dia tampak lebih cantik dibanding biasanya. Itu tanda bagi wanita yang sedang merasakan nikmatnya bersenggama. Rasanya Saya bisa lebih lama menunggu, mungkin karena tadi malam Saya sudah mengeluarkan dua kali ‘tabungan’ ke tubuh istri saya setelah disimpan selama 3 hari di luar kota.

Hingga beberapa saat kemudian…

Kedua posisikan sangat erat di tubuh saya dan saya merasakan guncangan-guncangan yang teratur beberapa kali. Saya lalu mengakhiri pompaan, memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Guncangan lalu melemah seiring melemahnya kuncian tangani. Lalu mengambil rebah ke samping. Yuni terkapar.

“Terima kasih Kang… terima kasih…” katanya sambil menciumi wajah saya.

“Gimana Yun…”

“Enak banget…”

Tubuh saya masih telungkup menindih tubuhnya, batang saya yang masih tegang ‘tersimpan’ di dalam tubuhnya. Saya masih tak bergerak walaupun Saya belum mencapai puncak. Sengaja untuk memberi waktu kepada Yuni untuk menyelesaikan puncak hubungan seks, orgasme. Karena Saya tahu berdasarkan pengalaman, wanita tak mau ‘diganggu’ bila sedang dalam masa puncak dan beberapa waktu setelahnya. Syaraf-syaraf pada alat kelaminnya menjadi sangat sensitif ketika masa orgasme.

Baca Juga : Cerita Dewasa Kenikmatan Melumati Tubuh Sexy

Tapi penis saya mulai mengendur karena masa pause begini. Saya harus mulai lagi untuk meningkatkan batang saya. Lalu Saya memulai gerakan dengan memundurkan penis saya sedikit dan menusuk lagi.

“Aaaahhh… Kang…” erangnya.

Saya terus saja.

Mulutnya mulai berkicau.

Makin cepat.

Gerakannya makin gila.

Saya melambung.

Melayang.

Beberapa detik kemudian…

Saya sampai.

Saya tumpahkan semuanya ke dalam tubuhnya.

ya. Saya ejakulasi didalam tubuhnya. Tak terpikirkan lagi untuk mainnya. Karena kedua kaki Yuni keburu menjepit pinggul saya, dan kemudian tubuhnya berguncang secara teratur seperti tadi.

Beberapa saat berlalu, saya baru menyadari akan akibat penumpahan ke dalam liangnya.

“Yun… Aku keluar didalam…”

“Engga apa-apa Kang… jangan khawatir”

“Maksudmu?”

“Aku masih menyimpan spiral di dalam…”

Saya lega walaupun di kepala ini menumpuk banyak pertanyaan seperti mengapa dia nekat begini.

Joker338